Amran menyebut pemerintah Malaysia melalui Kementerian Pertanian Malaysia telah menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut dan membuka peluang peningkatan volume impor beras dari Indonesia.
Baca Juga: Gempa NTT Tewaskan 38 Orang, Sekitar 2000 Warga Terpaksa Mengungsi
“Ini sejarah baru antara Indonesia dengan Malaysia untuk perberasan,” ujar Amran.
Ia berharap kerja sama tersebut berjalan lancar dan dapat berkembang menjadi hubungan perdagangan beras dalam skala yang lebih besar.
Ekspor Beras Tetap Dibayangi Prioritas Ketahanan Pangan
Pemerintah menegaskan ekspor dilakukan setelah mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga: Prabowo Bergerak Cepat! 50.000 Paket Sembako Dikirim untuk Korban Gempa NTT
Artinya, pembukaan pasar ekspor tidak boleh mengurangi ketersediaan beras bagi masyarakat Indonesia.
Peningkatan produksi menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.
BPS mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, sementara produksi beras 2024 tercatat 30,62 juta ton.
Baca Juga: Gerak Jalan Indah HUT ke-81 RI di Bulukumba, 100 Personel Polres Turun Amankan Rute
Dengan demikian, ekspor beras bukan semata-mata soal membuka pasar luar negeri.
Kebijakan tersebut juga menjadi ujian bagi pemerintah untuk menjaga stok, stabilitas harga, serta akses masyarakat terhadap beras di dalam negeri.
Bagi petani, terbukanya pasar ekspor berpotensi memperluas pasar komoditas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produksi beras.
Baca Juga: Umy Asyiatun Hadiri Pengukuhan 72 Paskibraka Bulukumba, Titip Pesan Soal Disiplin dan Nasionalisme