• Selasa, 18 Agustus 2026

Lawan Negara Debutan Saja Sulit, Benarkah Messi Masih GOAT?

Photo Author
Andi Fendy, Mediaraya.id
- Sabtu, 4 Juli 2026 | 09:16 WIB
Lionel Messi menjadi sorotan setelah Argentina menang dramatis 3-2 atas Tanjung Verde di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Meski membawa timnya lolos ke 16 besar, performa sang kapten memicu beragam kritik dan satire dari publik sepak bola.
Lionel Messi menjadi sorotan setelah Argentina menang dramatis 3-2 atas Tanjung Verde di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Meski membawa timnya lolos ke 16 besar, performa sang kapten memicu beragam kritik dan satire dari publik sepak bola.

Mediaraya.id - Argentina memang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Namun, kemenangan 3-2 atas Tanjung Verde justru meninggalkan lebih banyak tanda tanya daripada tepuk tangan.

Publik mulai bertanya-tanya, mengapa tim sekelas Argentina harus berkeringat menghadapi negara yang baru mencicipi panggung terbesar sepak bola dunia.

Lionel Messi tetap menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena namanya yang besar, tetapi karena ekspektasi terhadapnya selalu lebih tinggi dibanding pemain lain.

Ketika Argentina kesulitan membongkar pertahanan lawan yang minim pengalaman di Piala Dunia, sorotan otomatis mengarah kepada sang kapten.

Ironinya, semakin sering disebut sebagai pemain terbaik sepanjang masa, semakin besar pula harapan bahwa ia mampu membuat pertandingan seperti ini terasa mudah.

Namun yang terlihat justru sebaliknya. Argentina dipaksa bermain hingga perpanjangan waktu demi memastikan kemenangan.

Tanjung Verde seolah datang tanpa beban. Mereka bermain seperti tim yang tidak mengenal rasa takut.

Sementara Argentina justru terlihat seperti tim yang membawa koper penuh tekanan.

Anehnya, koper itu dipikul oleh pemain yang konon sudah terbiasa dengan panggung sebesar apa pun.

Pendukung Messi tentu akan mengatakan bahwa sepak bola adalah permainan tim. Itu benar.

Tetapi bukankah gelar "GOAT" juga diberikan karena kemampuan mengubah pertandingan ketika tim sedang kesulitan? Jika setiap kesulitan selalu dibagi rata kepada seluruh tim, lalu kapan status istimewa itu benar-benar diuji?

Kemenangan memang tercatat dalam sejarah. Namun sejarah juga mencatat bagaimana proses menuju kemenangan.

Menang tipis atas tim debutan mungkin cukup untuk lolos, tetapi belum tentu cukup untuk membungkam kritik.

Di media sosial, berbagai sindiran bermunculan.

Ada yang bercanda bahwa Tanjung Verde ternyata membaca buku cara menghentikan Argentina lebih baik daripada beberapa negara langganan Piala Dunia.

Bahkan ada yang berkelakar, "Kalau begini mainnya, mungkin lawan berikutnya yang harus waspada justru Argentina sendiri."

Sepak bola memang tidak mengenal lawan kecil. Namun publik juga tidak mengenal standar ganda.

Jika pemain lain tampil biasa saat melawan tim debutan, kritik datang tanpa ampun.

Maka wajar bila ukuran yang sama juga diarahkan kepada Messi, terlebih dengan status legendaris yang melekat padanya.

Barangkali yang paling lucu dari semua ini adalah perdebatan setelah pertandingan.

Sebagian menganggap kemenangan adalah segalanya. Sebagian lagi percaya bahwa kualitas juara juga diukur dari cara memenangkan pertandingan.

Dan saat dua kubu itu berdebat, Tanjung Verde pulang dengan kepala tegak karena berhasil membuat raksasa dunia bekerja lembur.

Pada akhirnya, Argentina memang melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Tetapi hari itu, yang paling banyak menang bukan hanya Argentina.

Tanjung Verde memenangkan rasa hormat dunia, sementara Messi kembali diingatkan bahwa gelar terbesar dalam sepak bola bukanlah "GOAT", melainkan kemampuan membuktikannya setiap kali melangkah ke lapangan.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Andi Fendy

Tags

Terkini

X