Bagi wisatawan, Bundaran Pinisi dapat menjadi titik awal untuk mengenal Bulukumba lebih jauh.
Baca Juga: Dikukuhkan Andi Utta, 72 Paskibra Bulukumba Siap Tampil dengan Formasi Angka 81
Setelah melihat ikon Pinisi di pusat kota, perjalanan dapat berlanjut menuju kawasan Bontobahari untuk mengenal lebih dekat tradisi pembuatan kapal.
Cerita kemudian dapat diteruskan ke berbagai destinasi bahari yang dimiliki Bulukumba, termasuk kawasan Tanjung Bira.
Dengan begitu, Pinisi bukan hanya menjadi objek yang dilihat.
Baca Juga: Jalan Santai HUT ke-81 RI di Bonto Tangnga Bulukumba Diikuti Ratusan Peserta
Ia dapat menjadi benang merah yang menghubungkan sejarah, budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata Bulukumba.
Identitas Yang Tidak Boleh Berhenti Pada Sebuah Monumen
Tantangan terbesar sebuah ikon daerah bukan hanya bagaimana membuatnya terlihat menarik.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Guncang NTT, Pengunjung Hotel Labuan Bajo Berhamburan, Air Laut Sempat Surut
Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat, pemerintah, dan generasi muda memahami cerita yang berada di baliknya.
Bundaran Pinisi akan memiliki makna yang lebih besar ketika keberadaannya mampu mengingatkan generasi muda bahwa Bulukumba mempunyai warisan budaya yang harus dijaga. Sebab, Pinisi tidak lahir dari sebuah monumen.
Pinisi lahir dari tangan para pembuat kapal, pengetahuan yang diwariskan, kehidupan masyarakat pesisir, dan hubungan panjang manusia dengan laut.
Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, Murid SD Muhammadiyah Bulukumba Tampil Percaya Diri
Ketika Sebuah Kapal Menjadi Identitas