“Jadi, dari anak sekolah yang kemungkinan, ini masih kemungkinan gejala keracunan ini semuanya tidak ada yang mengkhawatirkan. Semuanya kami lihat satu per satu,” kata Antonius kepada awak media di RS Amanda Berastagi, Kamis (13/8/2026).
Ia kemudian menyebut kondisi tersebut sebagai kabar baik di tengah laporan mengenai ratusan siswa yang mengalami gejala.
“Ini berita baik, kalau pun ada sesuatu kejadian, berita baiknya adalah semua anak-anak kita dalam keadaan baik,” ujarnya.
Baca Juga: BNN Sita Ganja, Senpi dan Mobil Mewah dari Bos Narkoba MR di Kampung Bahari
Antonius juga mengatakan pemerintah daerah saat ini lebih memprioritaskan kondisi kesehatan dan pemulihan para siswa.
“Kalau soal biaya, itu ada prosedur. Yang paling penting, kita pastikan dulu kesehatan anak-anak ini,” katanya.
Pernyataan Bupati Karo Jadi Perbincangan
Pernyataan Antonius mengenai kondisi siswa tersebut kemudian menjadi sorotan di media sosial.
Baca Juga: Penggerebekan Kampung Bahari: Polisi Terluka, Aset Rp39,9 Miliar Diamankan
Sebagian warganet menilai penggunaan frasa “berita baik” kurang tepat disampaikan ketika ratusan siswa sedang mendapat perawatan akibat dugaan keracunan.
Salah satu komentar mempertanyakan mengapa pemerintah tidak sekaligus menyampaikan pernyataan empati, permintaan maaf apabila diperlukan, serta komitmen melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
Komentar lainnya menilai jumlah siswa yang mencapai ratusan semestinya menjadi perhatian serius dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Baca Juga: Siswa Papua Bawa Sayur dan Buah Hasil Ladang untuk Guru, Kisahnya Bikin Haru
Di sisi lain, ada pula warganet yang memahami konteks pernyataan tersebut sebagai upaya Bupati Karo menyampaikan bahwa kondisi para siswa tidak sampai mengalami keadaan medis yang serius.
Beberapa komentar dari warganet seperti, “Padahal bisa memberi statement yang ada empatinya, seperti permintaan maaf dan janji evaluasi,” tulis akun @adr*******e