Mediaraya.id - Puluhan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar antusias mengikuti pelatihan membatik dari Rumah Membatik Bunga Mawar binaan Dekranasda Bulukumba, Jumat (5/6/2026).
Melalui pelatihan membatik Shibori dan Batik Tulis yang digelar bekerja sama dengan Rumah Membatik Bunga Mawar binaan Dekranasda Bulukumba Bulukumba, para siswa tidak hanya belajar membuat motif batik, tetapi juga diajak mengenal lebih dekat warisan budaya Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Salodong, Kecamatan Untia, Kota Makassar, itu menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta.
Dalam sehari penuh, siswa diperkenalkan pada teknik dasar membatik hingga praktik langsung menghasilkan karya mereka sendiri.
Pelatihan dipandu oleh Owner Rumah Membatik Bunga Mawar, Andi Mawarwati, bersama dua instruktur, Herawati dan Nurlela.
Dengan sabar, mereka membimbing para siswa menciptakan berbagai motif dan kombinasi warna yang unik sesuai imajinasi masing-masing.
Mengenal Batik Melalui Pengalaman Langsung
Suasana pelatihan berlangsung penuh semangat.
Di bawah pendampingan guru, wali asuh, dan wali asrama, siswa belajar bahwa membatik bukan sekadar menghasilkan kain bermotif, melainkan proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kreativitas.
Bagi sebagian siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama memegang canting maupun mencoba teknik pewarnaan Shibori.
Dari proses itulah mereka mulai memahami nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya batik.
Andi Mawarwati mengatakan antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan berlangsung.
Menurutnya, pengalaman membatik menjadi sesuatu yang menarik karena belum pernah dilakukan oleh sebagian besar siswa maupun tenaga pendidik yang hadir.
“Alhamdulillah, siswa sangat antusias. Mereka tidak hanya mendapatkan produk jadi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung membuat karya batik sendiri,” ujar Andi Mawarwati.
Berawal Dari Pesanan Sarung Pantai
Pelatihan membatik ini ternyata lahir dari kebutuhan yang sederhana.
Awalnya pihak sekolah memesan batik sarung pantai untuk 130 siswa.
Namun stok yang tersedia di Rumah Membatik Bunga Mawar hanya mencapai 100 lembar.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan ide kreatif.
Sebanyak 30 sarung pantai sisanya dibuat melalui keterlibatan langsung para siswa dalam proses pelatihan.
Dengan cara itu, peserta didik tidak hanya menerima produk jadi, tetapi juga memahami proses produksi dari awal hingga akhir.
Pendekatan tersebut dinilai efektif karena menggabungkan unsur edukasi budaya dengan praktik keterampilan yang nyata.
Para siswa belajar bagaimana sebuah produk kreatif lahir melalui proses yang membutuhkan ketekunan dan sentuhan seni.
UMKM Bulukumba Kenalkan Potensi Ekonomi Kreatif
Rumah Membatik Bunga Mawar merupakan UMKM binaan yang berada di bawah pendampingan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bulukumba.
Selama ini, usaha tersebut dikenal aktif memberdayakan masyarakat lokal melalui produksi sarung pantai khas Bulukumba serta berbagai produk batik tulis.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bulukumba, Andi Herfida Muchtar, menilai pelatihan membatik bagi siswa memiliki nilai strategis.
Menurutnya, generasi muda perlu diperkenalkan sejak dini terhadap produk lokal dan proses pembuatannya.
“Ini sangat menarik karena Rumah Membatik Bunga Mawar telah dikenal sebagai UMKM yang konsisten memberdayakan masyarakat lokal dalam pembuatan sarung pantai dan berbagai produk batik tulis. Kehadirannya di lingkungan sekolah menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya sekaligus memperkenalkan potensi produk unggulan daerah,” ungkap Andi Herfida.
Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga membuka wawasan siswa tentang peluang ekonomi kreatif yang berkembang dari kearifan lokal.
Batik tidak lagi dipandang hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai sektor usaha yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menumbuhkan Generasi Penjaga Warisan Budaya
Pelatihan membatik di SRMP 23 Makassar menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda.
Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya mengenal batik sebagai simbol identitas bangsa, tetapi juga merasakan proses kreatif di balik pembuatannya.
Kegiatan semacam ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih peduli terhadap warisan budaya Indonesia sekaligus membuka ruang tumbuhnya kreativitas dan jiwa kewirausahaan sejak usia sekolah.
Ke depan, kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pelaku UMKM lokal berpotensi menjadi model efektif dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif daerah.***