“Setelah CT scan di Penang, ternyata hasilnya menunjukkan appendix tampak normal dan tidak ada tanda peradangan,” lanjutnya.
Fahira kemudian menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dokter tidak merekomendasikan tindakan operasi usus buntu.
Baca Juga: PKKMB FKM Undip 2026 Perkenalkan Layanan Akademik Digital Dan GENTAYU
Ia juga menekankan bahwa pengalamannya tidak dapat dijadikan patokan untuk seluruh pasien karena kondisi medis setiap orang berbeda.
“Ini murni pengalaman pribadiku, bukan untuk menyalahkan pihak mana pun. Jangan takut bertanya dan mencari second opinion jika memang diperlukan. Setiap kondisi pasien berbeda,” sambungnya.
Nalar Rawat Minta Klarifikasi
Konten Fahira sebelumnya mendapat perhatian dari organisasi kesehatan Nalar Rawat yang meminta penjelasan lebih lengkap mengenai rangkaian pemeriksaan dan diagnosis yang diterimanya.
Baca Juga: Bulukumba Siap Pasok Pangan Ke Balikpapan, Kerja Sama Antar Daerah Diperkuat
Nalar Rawat meminta adanya klarifikasi terbuka mengenai pemeriksaan di tiga rumah sakit Indonesia, termasuk data medis dan kronologi pemeriksaan yang menjadi dasar munculnya diagnosis tersebut.
Permintaan tersebut muncul setelah narasi mengenai perbedaan hasil pemeriksaan Indonesia dan Penang ramai diperbincangkan di media sosial.
Selain aspek medis, Nalar Rawat juga meminta klarifikasi mengenai kemungkinan adanya hubungan kerja sama komersial dalam konten Fahira yang menampilkan pemeriksaan di Penang.
Baca Juga: Aiptu Aspar Meninggal Dunia, Polres Bulukumba Beri Penghormatan Terakhir
Nalar Rawat mempertanyakan kemungkinan endorsement, sponsorship, barter layanan, paid partnership, reimbursement, fasilitas perjalanan, atau bentuk kerja sama lainnya dengan Island Hospital maupun pihak yang mewakilinya.
“Nalar Rawat memberikan waktu 3x24 jam sejak penyampaian surat untuk menerima klarifikasi yang substantif,” demikian keterangan Nalar Rawat, dikutip Rabu, 12 Agustus 2026.
Berawal Dari Konten Pemeriksaan Di Penang