Pendekatan serupa juga pernah digunakan kepolisian dalam pengamanan aksi mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya.
Baca Juga: Remaja 16 Tahun Asal Brebes Tewas Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Begini Kronologinya
Pada sejumlah aksi sebelumnya, aparat membentangkan spanduk dengan pesan “selamat datang pejuang aspirasi” sebagai bentuk komunikasi humanis kepada peserta demonstrasi.
Meski demikian, makna dari pesan tersebut tetap dapat ditanggapi secara berbeda oleh peserta aksi maupun masyarakat.
Bagi aparat, spanduk menjadi bagian dari imbauan menjaga ketertiban, sementara bagi demonstran, pesan tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan sejauh mana aspirasi benar-benar didengar.
Baca Juga: Kebakaran Besar di Pangkalan PO Sinar Jaya Cikarang, 50 Bus Hangus Terbakar
BEM UI Bawa Sejumlah Persoalan
Aksi BEM UI di kawasan Bundaran HI tidak sekadar menghadirkan momen interaksi antara mahasiswa dan aparat.
Rombongan mahasiswa membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan persoalan ekonomi serta penanganan bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah isu-isu tersebut, interaksi singkat antara mahasiswa dan barisan polwan justru menjadi perhatian tersendiri karena berlangsung dengan suasana yang relatif ringan.
Baca Juga: Amankan Nobar Piala Dunia 2026, Kapolsek Ujung Bulu Terima Penghargaan dari Bupati Bulukumba
Candaan mahasiswa yang mempertanyakan kalimat “kami siap melayani” memperlihatkan dinamika komunikasi yang dapat muncul dalam sebuah aksi demonstrasi.
Bagi publik, momen tersebut menjadi sisi lain dari demonstrasi mahasiswa bahwa penyampaian kritik dan aspirasi tidak selalu berlangsung dalam suasana tegang, tetapi juga dapat diselingi humor dan spontanitas.
Hingga bagian akhir rekaman yang beredar, para polwan tetap berada di barisan pengamanan dan tidak terlihat membalas celetukan mahasiswa.***