Hafidz menduga para sopir mendapatkan tekanan sehingga memilih tidak mengangkut mahasiswa menuju lokasi demonstrasi.
Baca Juga: Remaja 16 Tahun Asal Brebes Tewas Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Begini Kronologinya
“Bayangkan, kita pesan total 24 Kopaja. 24 Kopaja semuanya tidak bisa karena mereka diintimidasi,” ujar Hafidz dalam orasinya.
Ia juga menyebut para sopir berada dalam posisi sulit karena khawatir kehilangan pekerjaan apabila memenuhi pesanan mahasiswa.
Meski demikian, Hafidz menegaskan pihaknya tidak menyalahkan para pengemudi.
Baca Juga: Kebakaran Besar di Pangkalan PO Sinar Jaya Cikarang, 50 Bus Hangus Terbakar
Menurut dia, persoalan tersebut justru menunjukkan adanya tekanan terhadap pihak-pihak yang membantu mobilisasi massa aksi.
“Kami tidak menyalahkan driver-driver tersebut, karena mereka hidup di sebuah sistem yang mengakibatkan mereka harus bekerja seperti ini,” katanya.
Klaim mengenai intimidasi terhadap 24 sopir tersebut merupakan pernyataan dari pihak BEM UI.
Baca Juga: Amankan Nobar Piala Dunia 2026, Kapolsek Ujung Bulu Terima Penghargaan dari Bupati Bulukumba
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan independen yang dapat mengonfirmasi secara terpisah apakah seluruh sopir mengalami intimidasi atau siapa pihak yang disebut melakukan tekanan.
Aksi BEM UI Bawa Delapan Tuntutan
Demonstrasi BEM UI pada 18 Agustus 2026 tidak hanya menyoroti persoalan ekonomi.
Mahasiswa membawa delapan tuntutan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, demokrasi, otonomi daerah, militerisme di ruang sipil, hingga penanganan bencana.
Baca Juga: Tak Cuma Datang ke Rumah Warga, Bhabinkamtibmas Bulukumpa Jalan Kaki Temui Petani Porang di Kebun