Selain penanganan korban secara fisik, aparat juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis para penyintas gempa di NTT.
Baca Juga: Kemenkes Bangun RS di Manggarai untuk Korban Gempa NTT, Kapasitas Ditargetkan 100 Tempat Tidur
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan trauma healing diperlukan, terutama bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Menurut Rudi, penanganan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada luka fisik.
Kondisi kesehatan mental para penyintas juga perlu mendapatkan perhatian.
Baca Juga: Viral! Pria Tanpa Busana Serang Pemotor di Lenteng Agung, Dua Pengendara Jadi Korban
Di titik pengungsian Lapangan Gelora Samador, tercatat 1.207 orang mengungsi.
Kepolisian setempat juga memberikan pendampingan dan trauma healing kepada para pengungsi.
“Para pengungsi ini bukan hanya mereka bukan hanya fisiknya saja yang terluka tapi ada juga kesehatan mental itu yang tidak boleh kita abaikan,” kata Rudi dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: Komisi II DPRD Bulukumba Lanjutkan Pembahasan PPAS APBD 2027
“Itu yang kita atensi, terlebih bagi anak-anak,” tandasnya.
Kisah Paulina menjadi salah satu gambaran dramatis dari dampak gempa Flores.
Di tengah kerusakan dan keterisolasian sejumlah wilayah, penemuan seorang lansia dalam kondisi selamat setelah empat hari tertimbun reruntuhan menjadi kabar yang memberi harapan bagi para penyintas dan keluarga korban bencana.***